Wall Street Reli Sinter Klas! Akankah SdanP 500 Tembus Rekor?

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street kembali dibuka kompak di zona hijau pada perdagangan Rabu (27/12/2023), seiring pelaku pasar menantikan S&P 500 menyentuh level rekor tertingginya.

Dow Jones dibuka menguat 0,08% di posisi 37.575,06, sementara S&P 500 naik 0,07% di posisi 4.777,93, begitu juga dengan Nasdaq terapresiasi 0,19% di posisi 15.100,64.

Kenaikan ini juga terjadi seiring dengan bursa Eropa Stoxx600. Sepanjang tahun ini, bursa saham blue chip Eropa berada di kisaran 477 yang menunjukkan adanya kenaikan 12,41%. Level ini juga hampir menembus rekor tertingginya pada November 2021 yang berada di 483,44. 

Indeks acuan saham AS, termasuk S&P 500 bersama dengan Dow dan Nasdaq, juga menikmati kenaikan beruntun selama delapan pekan – yang terpanjang sejak 2017.

Ini merupakan tahun yang kuat bagi saham. Dow dan S&P 500 siap untuk mengakhiri tahun 2023 dengan kenaikan masing-masing sebesar 13% dan 24%.

Di sisi lain, Nasdaq Composite telah melonjak 44%, unggul di tengah rebound teknologi mega-cap dan lonjakan signifikan sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Indeks acuan teknologi ini juga berada di jalur kenaikan terbesar dalam satu tahun sejak tahun 2003, ketika melonjak 50%.

Saham AS berada di fase “Santa Claus Rally,” atau periode lima hari terakhir perdagangan di akhir tahun dan dua hari pertama di tahun baru. S&P 500 secara rata-rata telah meningkat sekitar 1,3% selama periode ini, menurut data sejak 1950 dari Stock Trader’s Almanac.

Tom Lee dari Fundstrat dalam sebuah catatan kepada kliennya menyatakan adanya tren kenaikan pasar modal pada Desember. “Mengingat kinerja fund manager yang menurun dan gagasan “jangan pernah menjual pasar yang membosankan,” kami melihat pergerakan yang lebih tinggi memasuki hari-hari terakhir tahun 2023,” ujarnya.

Meskipun sentimen positif di Wall Street, Scott Wren, ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute, memperingatkan bahwa pasar mungkin terlalu optimis, terutama dari risiko jika Federal Reserve menurunkan suku bunga lebih lambat dari yang diperkirakan.

Pasar memperkirakan kemungkinan lebih dari 70% penurunan suku bunga pada pertemuan bank sentral bulan Maret, menurut FedWatch CME Group.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected] 

(mza/mza)[Gambas:Video CNBC] 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *