The Fed Ragu Pangkas Suku Bunga, Mata Uang Asia Terkapar

Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Asia terpantau melemah pada perdagangan siang hari ini karena The Fed ragu segera turunkan suku bunga.

Dilansir dari Refinitiv, pukul 14.45 WIB pada Kamis (8/2/2024), depresiasi mata uang Asia dipimpin oleh bhat Thailand yang ambruk 0,5% terhadap dolar AS secara harian. Posisi kedua ditempati oleh yen Jepang yang melemah sebesar 0,4%.

Pelemahan mata uang Asia karena 

The Fed dalam pernyataan resminya mengatakan pemangkasan suku bunga tidak layak dilakukan selama mereka belum yakin jika inflasi bergerak ke arah 2%.

“Kami merasa tidak patut untuk mengurangi target sasaran (suku bunga) sampai kami merasa lebih percaya diri jika inflasi sudah bergerak ke target sasaran 2%. Komite sangat berkomitmen untuk membawa inflasi ke target sasaran 2%. Inflasi sudah melandai dalam setahun terakhir tetapi kami masih memberi perhatian penuh terhadap risiko inflasi” tutur pernyataan The Fed dalam situs resminya.

Keinginan pelaku pasar melihat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat sepertinya belum akan terwujud. Chairman The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, mengatakan jika ekonomi AS saat ini masih sangat kuat.

Dengan ekonomi dan inflasi AS yang masih kuat, Powell menegaskan jika The Fed belum cukup percaya diri untuk memangkas suku bunga pada pertemuan FOMC Maret mendatang.

“Berdasarkan pertemuan hari ini, saya ingin mengatakan pada Anda jika saya merasa komite belum mencapai level percaya diri untuk menentukan apakah Maret adalah saat yang tepat untuk itu (pemangkasan suku bunga),” tutur Powell dalam konferensi pers usai rapat FOMC, dikutip dari CNBC International.

“Inflasi turun tanpa adanya perlambatan ekonomi dan kenaikan angka pengangguran. Tidak ada alasan mengapa kita harus menghentikan proses yang tengah berlangsung. Tujuan utama kami adalah inflasi terus menerus turun. Tentu saja, kami menginginkan pasar kerja yang tetap kuat juga. Mandat kami adalah stabilitas harga dan pengangguran bukan pertumbuhan,” papar Powell.

Powell menjelaskan The Fed akan membutuhkan waktu lama untuk menurunkan suku bunga jika data pendukung belum bergerak sesuai keinginan mereka. Sebaliknya, jika inflasi turun lebih cepat maka pemangkasan juga bisa dilakukan lebih cepat.

“Kami mencoba untuk merasa nyaman dan semakin yakin jika inflasi terus menerus turun secara berkelanjutan ke arah 2%,” kata Powell.

Namun, Powell mengatakan jika target pengetatan suku bunga sepertinya sudah mencapai puncak dan mengisyaratkan jika pemangkasan suku bunga akan dilakukan pada tahun ini tetapi semuanya harus berdasarkan data pendukung.

“Kami percaya jika siklus pengetatan suku bunga sepertinya sudah mencapai puncak,” ujarnya.

Sementara itu rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan data cadangan devisa (cadev) yang masih cukup kuat pada perdagangan kemarin, Rabu (7/2/2024).

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,6% di angka Rp15.630/US$. Penguatan ini merupakan apresiasi terkuat sejak 23 Januari 2023 dan mematahkan tren pelemahan dua hari beruntun.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(ras/ras)[Gambas:Video CNBC] 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *