Tak Disangka, Jumlah Predator di Puncak Himalaya Ada 718 Ekor!

Kathmandu

India merupakan rumah bagi 718 macan tutul salju. Jumlah itu menurut survei pertama kali dari yang pernah dilakukan terhadap hewan ini di negara tersebut.

Mengutip BBC, Senin (5/2/2024), macan tutul salju India menyumbang sekitar 10-15% dari populasi global. Diungkapkan kementerian lingkungan hidup, hewan itu diklasifikasikan sebagai hewan yang rentan oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

Jumlahnya di alam liar menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya habitat dan perburuan liar hingga pembangunan infrastruktur.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei macan tutul salju di India (SPAI) dilakukan dari tahun 2019 hingga 2023. Survei ini dilakukan sebagai bagian dari sebuah upaya global untuk menentukan jumlah macan tutul salju.

Survei di India mencakup area sekitar 120.000 km persegi, habitat hewan ini di wilayah trans-Himalaya.

“Hingga beberapa tahun terakhir, wilayah jelajah macan tutul salju di India tidak diketahui dengan baik karena kurangnya penilaian skala nasional yang ekstensif terhadap spesies yang rentan ini,” kata kementerian lingkungan hidup dalam sebuah pernyataan.

Tim Putra Perkasa Abadi (PPA) Ekspedisi Himalaya kembali mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Mera Peak, Pegunungan Himalaya, Nepal (Foto: dok. PPA)

Survei ini mencakup 70% dari potensi habitat macan tutul salju di negara ini, termasuk wilayah Ladakh dan Jammu dan Kashmir, negara bagian Himachal Pradesh dan Uttarakhand di India bagian utara, serta Sikkim dan Arunachal Pradesh di bagian timur laut.

Setelah perangkap kamera mengidentifikasi 214 individu macan tutul salju, para surveyor menganalisis jejak macan tutul dan data lainnya untuk memperkirakan populasi hewan ini sebanyak 718 ekor.

Laporan tersebut mengatakan bahwa memahami jumlah populasi hewan ini sangat penting karena perannya sebagai predator puncak di ekosistem Himalaya.

Populasi macan tutul salju dapat mengindikasikan kesehatan ekosistem serta membantu mengidentifikasi potensi ancaman terhadap habitat dan pergeseran yang disebabkan oleh perubahan iklim, tambahnya.

“Keberlangsungan habitat dataran tinggi ini saling terkait dengan tatanan sosial-budaya masyarakat lokal dan keberlangsungan ekonomi populasi yang tinggal di hilir.”

Laporan tersebut mengatakan bahwa 70% dari lahan yang digunakan oleh hewan ini tidak dilindungi dan menyediakan habitat kritis bagi satwa liar.

“Satwa ini membutuhkan pemantauan yang konsisten untuk memastikan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang,” tambahnya.

Simak Video “Petir, Fenomena Alam yang Dianalogikan Sebagai Kondensor Raksasa, Bogor”[Gambas:Video 20detik](msl/wsw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *