Sungguh Ironis, Gaji Nakes di NTT Setiap Bulan Masih Rp 250 Ribu

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Berto Kalu

POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO – Sebanyak kurang lebih 500 tenaga medis (Nakes) sukarela di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih digaji dengan tidak layak. Ada nakes yang masih diupah Rp250 ribu setiap bulan.

Hal ini disampaikan Aemilianus Mau, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) NTT di sela-sela Musyawarah Daerah IV PPNI Kabupaten Manggarai Barat, di Labuan Bajo, Sabtu 16 Desember 2023.

Pria yang akrab disapa Willy itu mengungkapkan, sebanyak 500 dari total 20 ribu perawat yang terdaftar di NTT masih bekerja sukarela di sejumlah fasilitas kesehatan.

“Rata-rata di setiap kabupaten di NTT ada nakes sukarela, mereka masih digaji dari Rp250 ribu, Rp500 ribu sampai Rp1 juta paling tinggi,” ungkap Willy.

Baca juga: Keterbatasan Tempat Tidur dan Nakes Penyebab Adanya Penumpukan Pasien di UGD RSUD Ruteng

Willy menjelaskan, nakes yang bekerja sukarela sebetulnya telah dilarang secara aturan dari Kementerian Kesehatan RI. Meski demikian Willy tak menampik kondisi ini masih terjadi di wilayah NTT. Ia menerangkan nakes harusnya digaji berdasarkan standar upah yang telah ditetapkan yaitu ‘Take Home Pay’, tiga kali di atas upah minimum. Ini berlaku untuk tenaga kontrak daerah, ASN dan P3K.

Sementara upah untuk nakes sukarela berdasarkan dana kapitasi yang jumlahnya ditentukan oleh kepala fasilitas kesehatan.

“Kami mengharapkan perawat sendiri dan pemerintah kalau bisa mempekerjakan perawat dengan upah yang layak. Untuk perawat, dokter, tenaga kesehatan itu namanya tenaga yang profesional. Seharusnya perhitungan yang kita berikan kepada pemerintah, itu standarnya tiga kali UMP. Tapi kita kembali ke politik anggaran,” jelas Willy.

Kondisi demikian, memaksa PPNI mendorong nakesnya bekerja di luar daerah seperti Papua dan bahkan luar negeri. Upaya ini agar nakes di NTT tidak terjebak dengan upah yang kecil. Di Papua disebutnya nakes dari NTT bisa digaji hingga Rp5 juta per bulan.

“Di Kabupaten Yahukimo Papua sekarang butuh perawat dari NTT, tapi anak-anak tidak berani, kemarin diminta 30 orang yang berangkat cuma 8 orang. Kami juga dorong ke luar negeri, Jepang dan Arab Saudi, tetapi itu seleksinya ketat,” katanya.

Willy juga mengeluhkan soal status 3.000 nakes di NTT yang nasibnya masih terkatung-katung, padahal PPNI telah mengusulkan sejak 2017 agar 3.000 nakes itu bisa diangkat menjadi ASN ataupun P3K. “Sampai hari ini belum semuanya (diangkat ASN), mungkin baru setengahnya,” tandasnya.

Untuk konteks Manggarai Barat ada 70 lebih dari total 950 nakes yang masih bekerja sukarela di sejumlah fasilitas kesehatan. Para sukarelawan ini pun kerap diupah tak layak, tidak mengikuti standar Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Kalau kerja di puskesmas mereka diupah berdasarkan kebijakan pimpinan fasilitas kesehatan. Kalau mereka tinggal di Labuan Bajo sangat-sangat berat, mereka digaji Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta, itupun kadang tidak diterima tiap bulan itu,” ungkap Kelana, Ketua PPNI Manggarai Barat.

Meski demikian, seluruh perawat sukarela itu telah terdata di Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) Kementerian Kesehatan. Menurut Kelana ini akan memudahkan nakes perawat ketika akan mengikuti tes P3K.

“Ketika pengajuan untuk mengikuti tes P3K bisa langsung ditarik dari data itu. Memang satu atau dua tahun terakhir banyak tenaga sukarela terserap melalui proses P3K,” pungkasnya. (uka)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *