Senja Kala Nagari Penghasil Orang Hebat dari Minang, Ditinggal Penghuni

Jakarta

“Koto Gadang kotanya kecil, tapi hatinya gadang (besar)” tertanda Ir. Soekarno, Presiden RI tertanggal 4 Juli 1948. Begitulah bunyi sebuah ukiran tulisan tangan yang terpahat pada sebuah tugu prasasti.

Lokasinya berada tepat di pertigaan jalan di pusat Nagari Koto Gadang Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Begitulah testimoni dari seorang Proklamator sekaligus presiden pertama di negara ini terhadap sebuah kampung kecil yang keberadaannya mempunyai arti besar bagi negara republik yang baru didirikan.

Sebuah hal yang sangat langka, bahkan mungkin inilah satu-satunya kampung kecil di pedesaan yang mendapat kehormatan untuk “diberi testimoni” oleh seorang tokoh besar sekelas Bung Karno.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nagari Koto Gadang sekilas tak ada bedanya dengan kampung-kampung kecil lainnya di dataran Sumatera Barat atau di daerah-daerah lainnya.

Dengan kelompok-kelompok rumah pemukiman yang berjejer sepanjang jalan, di belakangnya terhampar petak-petak sawah yang menghijau dan sebagian mulai menguning dengan latar belakang jejeran bukit barisan dan Gunung Singgalang tegak di kejauhan.

Namun ada yang membedakan Koto Gadang dengan desa-desa lainnya. Sejak dahulu di Minangkabau, Koto Gadang telah dijuluki sebagai “kampung otak” atau “kampung intelektual” yang berarti tempat dilahirkannya orang-orang hebat, tokoh-tokoh besar dan berpengaruh, bukan hanya di tingkat Minangkabau saja bahkan hingga level nasional dan internasional.

Ratusan tokoh dan pejabat berasal dari Koto Gadang ini, mulai dari jabatan sebagai hakim, jaksa, guru besar, rektor, atase atau duta besar, dokter, direktur BUMN, politisi bahkan hingga menteri atau perdana menteri.

Catatan sejarah tokoh Nagari Koto Gadang, Sumbar:

1. Sutan Sjahrir (mantan perdana menteri RI)2. Haji Agus Salim (mantan menteri luar negeri)3. Mr Assaat (mantan presiden RI dalam RIS)4. Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (ahli fikih dan imam besar Masjidil Haram)5. Rohana Kudus (aktivis pers perempuan)6. Abdul Halim (mantan Perdana Menteri masa RIS)7. Abdul Muis (sastrawan)8. Emil Salim (Menteri Lingkungan Hidup era Soeharto)9. Oesman Effendi (pelukis)10. Komjen Pol (Purn) Boy Rafli Amar (Kepala BNPT 2020-2023) dan lain-lain.

Mereka dilahirkan di kampung kecil ini atau sekurangnya memiliki pertalian darah dengan Koto Gadang ini. Nagari Koto Gadang merupakan salah satu dari 11 nagari yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Sejarah Nagari Koto Gadang

Menurut sejarahnya, asal-usul Nagari Koto Gadang dimulai pada sekitar akhir abad ke-17. Saat itu kaum leluhur moyang masyarakat Minangkabau yang berasal dari Pariangan berkelana menuruni bukit dan lembah, untuk mencari tanah yang cocok untuk ditanami dan dijadikan sawah serta untuk tempat permukiman.

Dalam pengembaraan itu, sampailah mereka di sebuah bukit yang bernama Bukik Kapanehan (Bukit Kepanasan) dan di situlah mereka bersawah dan berladang yang kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan.

Kaum yang datang bersama dari Nagari Pariangan di kaki Gunung Marapi ini kemudian membangun permukiman dan bernagari dengan tidak melepaskan adat kebiasaan mereka.

Mata pencaharian masyarakat Koto Gadang ini mayoritas adalah bersawah, berladang, berternak, bertukang kayu. Dan ada satu keahlian dari masyarakat Koto Gadang yang menonjol yaitu sebagai perajin atau pandai emas dan perak.

Profil masyarakat Nagari Koto Gadang sebagai tukang emas dan tukang perak sangat masyhur di seluruh Minangkabau. Namun yang paling dikenal dari masyarakat Koto Gadang ini adalah besarnya perhatian masyarakatnya terhadap pendidikan dan semangat belajar anak-anak Koto Gadang yang tinggi sejak dahulu kala.

Anak-anak mereka disekolahkan di sekolah-sekolah modern Belanda seperti Hollands Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwojs (MULO), hingga sekolah tinggi kedokteran (STOVIA) di Jakarta, atau NIAS di Surabaya bahkan belajar langsung ke negeri Belanda.

Maka sejak awal abad 19, Nagari Koto Gadang ini dikenal sebagai tempat kelahiran para pekerja dan pegawai birokrasi pemerintah Belanda, seperti guru, jaksa, hakim, pegawai pajak, yang bertugas diseluruh pelosok Sumatera, Kalimantan, hingga Batavia.

Maka tak heran jika kini dapat dikatakan bahwa Koto Gadang merupakan nagari/desa yang paling banyak melahirkan sarjana di Indonesia. Sejak zaman penjajahan hingga sekarang, keluarga-keluarga di Koto Gadang tetap mengutamakan pendidikan kepada anggota keluarganya.

Kalau masyarakat daerah lain di Minangkabau merantau umumnya untuk berdagang, maka masyarakat Koto Gadang merantau untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Namun dibalik cerita sukses nagari Koto Gadang itu, kini menyisakan kisah sedih. Nagari Koto Gadang semakin hari semakin sepi, ditinggalkan anak cucunya yang kini telah hidup sukses di perantauan.

Hanya ada sedikit orang-orang tua lanjut usia yang menghuni kampung. Rumah-rumah megah di masa lalunya kini perlahan mulai lapuk dimakan usia.

Pintu dan jendelanya yang telah bertahun-tahun tertutup rapat, hanya sesekali terbuka di saat empunya pulang sekali setahun di hari raya.

(msl/msl) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *