Putri Handayani Soal Tidak Menancapkan Bendera Merah Putih di Kutub Selatan

Jakarta

Putri Handayani berhasil berjalan menggapai titik paling selatan bumi di benua Antartika. Ia membeberkan rahasia soal tidak menancapkan bendera merah putih di Kutub Selatan.

Diketahui bahwa Putri menyelesaikan penjelajahan ke Kutub Selatan pada 28 Desember 2023, pukul 13.00 siang waktu Punta Arena, Cile. Dia berjalan dengan menggunakan ski sambil menarik 30 kg sled dari latitude (Garis Lintang) 89°S ke 90°S, menembus cuaca ekstrem dan salju.

Jadi, bendera-bendera yang ada di foto Putri adalah negara pertama yang menandatangani perjanjian damai di Antartika. Jadi, memang tidak ada bendera negara lain meski pendakinya telah sampai di sana.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“12 bendera di belakang tadi adalah 12 negara original penandatangan atau The Antarctic Treaty. Kalau sekarang kan perjanjian Antartika itu ada sekitar 56 negara yang menandatangani,” kata Putri kepada wartawan di Kantor Kemenpora.

“Tapi dulu ketika mulai itu hanya ada 12. Jadi sebenarnya bendera di sekitar itu bukan apa ya, bukan oh yang udah datang nancepin, yang sudah datang nancepin, bukan itu,” terang dia.

Jadi, Putri menegaskan bahwa bendera-bendera itu adalah 12 negara yang menandatangani The Antarctic Treaty. Itu adalah perjanjian yang menyatakan bahwa tidak boleh ada pertambangan hingga operasi militer di sana.

“Jadi itu benar-benar tempat yang harus di-keep peace gitu ya, damai dan didedikasikan untuk ilmu pengetahuan. Ada yang komen kak kok benderanya nggak ditancepin malah dibawa lari-lari,” kata dia tertawa.

Pendaki Putri Handayani (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Rahasia titik paling selatan bumi selalu bergeser

Selain itu, Putri juga membeberkan rahasia Antartika. Jadi, karena benua ini merupakan daratan es, jadi selalu ada pergerakan titik ujungnya di setiap tahun.

“Pesan dari situ, 90 derajat Lintang Selatan itu sebenarnya bukan titik itu. Tapi 90 derajat Lintang Selatan ini setiap tahun itu karena itu kan lempengan es. Walaupun tebalnya sampai dengan 3.000 meter, lempengan es itu bergeser 10 meter setiap tahunnya,” kata dia.

“Jadi titiknya itu selalu beda, South Pole itu. Makanya yang follow media sosial saya ada momen nyari mana nih nyari-nyari dapat nggak 90 dapat yang 90, gitu,” kata dia.

“Karena 89 koma sekian, kalau sistem yang familiar sama sistem koordinat, satu derajat 60 menit gitu ya, 1 menit 50 detik. Jadi itu udah 89, 59 tapi masih 96, 97, maju ke sini loh kok masih 9 koma sekian salah itu. Itu sebenarnya bukan titik itu South Pole-nya,” ungkap dia.

“Tapi itu yang digunakan sebagai ceremony,” kata dia.

Simak Video “Update Erupsi Marapi: Korban Jiwa 23 Orang-300 Personel SAR Diterjunkan”[Gambas:Video 20detik](msl/fem)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *