Putin Makin Perkasa di Ukraina, Zelensky ‘Tampar’ AS

Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia dilaporkan mulai berhasill menguasai kembali beberapa wilayah di daerah Ukraina dalam perang skala besarnya melawan Kyiv. Hal ini terjadi saat Ukraina kekurangan pasokan amunisi, yang disokong dari negara-negara Barat.

Penasehat Keamanan Gedung Putih, Jake Sullivan mengatakan bahwa kenyataannya hari ini adalah bahwa Moskow mendapatkan keuntungan setiap hari karena Ukraina tidak mendapatkan sumber dayanya. Ia bahkan menyebut Kyiv saat ini menderita.

“Saya merujuk pada mayoritas bipartisan yang kuat di DPR Amerika Serikat (AS) agar siap untuk meloloskan paket bantuan untuk Ukraina jika berhasil,” ujarnya sebagaimana dikutip dari The Guardian, Rabu (28/2/2024).

Sullivan juga meminta dengan khusus kepada salah satu anggota Senat AS dari Partai Republik, Mike Johnson, untuk menggelar pemungutan suara kembali terkait hal ini. Diketahui, Johnson merupakan pendukung keras Donald Trump, yang bersifat skeptis terhadap bantuan ke Ukraina.

“Jika ia (Johnson) melakukannya, maka hal itu akan berhasil, dan Ukraina akan mendapatkan apa yang dibutuhkannya agar Ukraina berhasil. Jika ia tidak melakukan hal tersebut, maka kita tidak akan bisa memberikan alat yang dibutuhkan Ukraina untuk melawan Rusia dan Putin akan menjadi penerima manfaat terbesar dari hal tersebut.”

Perang besar antara Rusia dan Ukraina dimulai sejak 24 Februari 2022 lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin beralasan bahwa serangan didasarkan pada niatan Kyiv untuk bergabung dengan aliansi militer Barat pimpinan AS, NATO, yang notabenenya merupakan rival dari Moskow.

Selain itu, Putin berniat untuk mengambil wilayah Donetsk dan Luhansk yang sebelumnya dikendalikan Ukraina. Ini untuk membebaskan masyarakat etnis Rusia yang disebutnya mengalami persekusi dari kelompok ultra nasionalis Ukraina.

Dalam perang ini, Kyiv bergantung pada bantuan militer Barat untuk mempertahankan upayanya melawan Rusia. Negara bekas Uni Soviet itu mengandalkan sumber daya penting seperti sistem pertahanan udara, artileri, dan amunisi kepada para pendukungnya.

AS adalah penyedia bantuan keamanan terbesar bagi Ukraina. Negeri Paman Sam telah mendedikasikan lebih dari US$ 44,2 miliar (Rp 687 triliun) untuk Kyiv dalam dua tahun terakhir.

Namun pendanaan tahap baru, senilai US$ 60 miliar (Rp 937 triliun), telah terhenti di Kongres di tengah desakan Partai Republik untuk memperketat kontrol perbatasan di AS bagian Selatan.

Menteri Pertahanan Rustem Umerov, menyoroti bahwa AS dan sekutu Baratnya masih perlu memenuhi komitmen mereka jika ingin Kyiv bertahan melawan Moskow. Ia menekankan bahwa penundaan pengiriman senjata akan memakan banyak korban jiwa.

“Kami melihat ke arah musuh: Ekonomi mereka hampir US$ 2 triliun (Rp 31 ribu triliun), mereka menggunakan hingga 15% anggaran resmi dan tidak resmi untuk perang, yang berjumlah lebih dari US$ 100 miliar (Rp 1.560 triliun) setiap tahunnya,” katanya.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kemudian menjelaskan bahwa Kyiv memiliki rencana untuk serangan balasan baru terhadap pasukan Rusia. Ia mengatakan pergantian kepala militer Ukraina awal bulan ini terkait dengan rencana aksi baru di medan perang.

Pasukan Kyiv melakukan serangan balasan tahun lalu. Namun, serangan ini tidak mampu menembus garis pertahanan yang telah dipersiapkan Rusia di wilayah Selatan dan Timur negara itu.

“Rencana ini terkait dengan pergantian kepengurusan; ada perubahan yang sesuai. Beberapa rencana akan disiapkan karena adanya kebocoran informasi,” tambah Zelensky.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Minyak Rusia Diserang, Drone Terbang di Atas Rumah Putin


(luc/luc) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *