Pesta Khusus Kulit Putih Bikin Gerah Warga Sri Lanka, Berakhir Tragis

Jakarta

Pesta turis kulit putih di Sri Lanka memicu perdebatan. Penyelenggaranya lalu meminta maaf setelah mendapat reaksi keras di dunia maya.

Menyitir BBC, Sabtu (2/3/2024), iklan acara tersebut mencantumkan kode berpakaian putih, tetapi juga memiliki kalimat yang berbunyi “Face control: White”. Kalimat itu lalu ditafsirkan bahwa acaranya hanya terbuka untuk orang kulit putih.

Seorang penyelenggara kemudian mengatakan bahwa acara tersebut adalah “ide yang buruk”. Ia lalu menambahkan bahwa acara tersebut dimaksudkan untuk menyatukan para ekspatriat.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesta yang sedianya akan berlangsung Sabtu lalu dibatalkan. Reaksi keras terhadap acara tersebut sangat cepat, dengan banyak orang di media sosial menyebutnya “menjijikkan” dan “rasis”.

“Saya tahu tidak semua ekspatriat seperti ini tapi hal seperti ini harus dihentikan dengan cepat dan dihentikan dengan peringatan keras,” ujar salah satu pemilik restoran lokal.

“Beraninya mereka datang ke negara berkulit cokelat dan melarang orang-orang dari negara tersebut,” kata pengguna media sosial lainnya di Facebook.

Menulis di Instagram dengan nama akun geo_ecstatic, seorang pria yang mengaku sebagai penyelenggara acara, mengatakan bahwa “tidak ada kebencian atau rasisme” dalam perencanaan pesta tersebut.

“Kami ingin bertemu dengan para ekspatriat yang telah tinggal di sini untuk waktu yang lama dan mencintai Sri Lanka. Tim mendukung saya dan keputusan bersama dibuat untuk segera menyelenggarakan pesta,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia harus meninggalkan negara ini setelah menerima rentetan pelecehan dan ancaman.

“Saya tidak menyangka bahwa ini adalah momen yang sensitif bagi banyak orang. Saya akui bahwa itu adalah ide yang buruk dan saya mengerti bahwa kami menciptakannya sendiri karena kebodohan kami,” kata dia.

“Saya sangat meminta maaf kepada semua orang yang perasaannya terluka,” imbuh dia

Acara tersebut sedianya akan diadakan di Sarayka Lounge di kota pesisir selatan Unawatuna. Tempat tersebut kemudian memposting sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa pesta tersebut telah dibatalkan, dan menambahkan bahwa tim stafnya “tidak melakukan pemeriksaan yang cukup menyeluruh” dan telah “memutuskan hubungan” dengan perencana acara.

“Kami tidak pernah mendukung dan tidak akan pernah mendukung berbagai pernyataan atau organisasi rasis,” tulis mereka.

Penyelenggara serta pemilik Sarayka Lounge diyakini merupakan warga negara Rusia. Rupasena Koswatta, presiden asosiasi pengusaha Unawatuna mengatakan bahwa banyak orang Rusia telah pindah ke Unawatuna, sebuah kota pantai yang berjarak hanya 5 km dari Galle, dalam dua tahun terakhir.

Banyak bisnis pariwisata di sana sekarang dimiliki oleh orang Rusia di daerah yang sekarang dikenal sebagai “Little Moscow”.

Kedutaan Besar Rusia di Kolombo kemudian merilis sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa mereka “mengutuk keras segala bentuk diskriminasi rasial dan nasionalisme” dan mendesak warganya yang tinggal di pulau itu untuk mengikuti hukum dan menghormati adat istiadat setempat.

Pada hari Minggu, Sri Lanka mengatakan bahwa mereka telah mengakhiri perpanjangan visa turis jangka panjang untuk warga Rusia dan Ukraina.

Lebih dari 288.000 warga Rusia dan hampir 20.000 warga Ukraina telah melakukan perjalanan ke Sri Lanka sejak invasi Moskow ke Ukraina, menurut laporan. Namun Presiden Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, kemudian dilaporkan mengatakan bahwa keputusan tersebut dibuat tanpa persetujuan Kabinet sebelumnya.

Simak Video “Gubernur Bali Larang Turis Asing Sewa Motor, Pengusaha Rental ‘Menjerit'”[Gambas:Video 20detik](msl/msl)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *