Perang Saudara Makin Gila, Junta Myanmar Hukum Mati 3 Jenderal

Jakarta, CNBC Indonesia – Kondisi di Myanmar masih terus membara. Terbaru, pasukan milisi mulai berhasil merebut beberapa fasilitas militer yang dikuasai rezim junta, mendorong beberapa pasukan dan personil untuk menyerah.

Dalam laporan AFP, Junta Myanmar telah menjatuhkan hukuman mati kepada tiga perwira tinggi yang menyerah kepada pejuang etnis minoritas bulan lalu di sebuah kota strategis di perbatasan China.

Penyerahan tersebut merupakan salah satu kerugian terbesar bagi militer dalam beberapa dekade, dan memicu kritik lebih lanjut terhadap kepemimpinan junta oleh para pendukungnya. Setelah penyerahan, para perwira dan pasukannya diizinkan meninggalkan daerah tersebut oleh aliansi milisi etnis.

“Tiga brigadir jenderal termasuk komandan kota Laukkai dijatuhi hukuman mati,” kata seorang sumber militer kepada AFP yang tidak ingin disebutkan namanya, Senin (19/2/2024).

Myanmar berada dalam perang saudara sejak junta militer pimpinan Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan sipil pada Februari 2021. Kudeta, yang terjadi pada bulan Februari 2021 memicu reaksi publik yang besar, dengan demonstrasi besar-besaran yang menolaknya, yang kemudian dibubarkan secara brutal.

Ini kemudian memicu reaksi keras dari beberapa milisi etnis di Negeri Seribu Pagoda. Mereka mulai melancarkan perlawanan terhadap rezim junta yang dianggap tidak demokratis.

Laukkai adalah kota terbesar yang direbut oleh Aliansi Tiga Persaudaraan, yang terdiri dari Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA), Tentara Arakan (AA), dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA).

Aliansi tersebut melancarkan serangan mendadak di sebagian besar wilayah utara Myanmar pada akhir Oktober dan telah merebut beberapa kota dan pusat perdagangan yang menguntungkan di sepanjang perbatasan dengan China.

Gudang Seks dan Narkoba

Laukkai sendiri menjadi kota yang cukup tersohor karena produksi narkoba, perjudian, serta seks. Kebanyakan hal-hal ini menarik pengunjung dari seberang perbatasan China.

Laukkai juga saat ini terkenal menjadi pusat operasi penipuan online. Banyak warga China dan negara-negara lainnya datang ke kota itu untuk menipu rekan senegaranya melalui internet.

Junta Mulai Kalah

Keberhasilan aliansi menguasai Laukkai telah menempatkan junta dalam posisi paling rentan sejak mereka merebut kekuasaan. Bulan ini, mereka mengumumkan akan mulai merekrut pria dan wanita muda ke dalam barisan mereka karena “situasi saat ini”.

Tidak ada rincian yang diberikan tentang bagaimana mereka yang dipanggil diharapkan untuk bertugas, namun banyak anak muda yang dinilai apatis terhadap tawaran ini dan memilih kabur ke luar negeri.

Pekan lalu, gambar media lokal menunjukkan ratusan orang mengantri di luar kantor paspor di Mandalay. Dan di pusat komersial Yangon, ribuan pemuda dan pemudi mengantri di luar kedutaan Thailand untuk mencari visa untuk keluar dari Myanmar minggu lalu.

Sementara itu, baru-baru ini Aliansi Tiga Persaudaraan menenggelamkan tiga kapal pendarat angkatan laut junta dan menghancurkan kapal perang lainnya di wilayah Rakhine.

Penduduk setempat mengatakan kepada RFA bahwa tentara junta dari batalyon Kyauktaw sedang mundur menuju Sittwe di Sungai Kaladan ketika Milisi Arakan mencegat dan menenggelamkan mereka.

Akademisi hubungan internasional di American University, Aung San Win, mengatakan serangan ini sangatlah signifikan lantaran junta sangat bergantung pada armada lautnya di Rakhine.

“Sekarang saya pikir ketika angkatan laut diserang dan dihancurkan secara strategis, mereka berada dalam posisi yang sulit,” paparnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pemberontakan di Tetangga RI Memanas, Militer Mulai Kewalahan


(luc/luc) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *