Perang Nuklir Benar-Benar di Depan Mata, Putin Beri Ancaman Baru

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan akan adanya risiko “nyata” terjadinya perang nuklir. Hal ini jika negara-negara Barat “meningkatkan” konflik di Ukraina.

Berbicara di Moskow, Kamis waktu setempat, Putin mengatakan tentaranya terus bergerak maju dalam perang yang masih berlangsung dengan tetangganya tersebut. Ia pun memperingatkan Barat akan “konsekuensi tragis” bagi negara mana pun yang berani mengirim pasukan ke Kyiv.

“Mereka telah mengumumkan kemungkinan pengiriman kontingen militer Barat ke Ukraina…. Konsekuensi bagi intervensionis yang mungkin terjadi akan jauh lebih tragis,” katanya dalam pidatonya kenegaraan, dikutip AFP, Jumat (1/3/2024).

“Mereka pada akhirnya harus menyadari bahwa kita juga memiliki senjata yang dapat mengenai sasaran di wilayah mereka,” ujarnya menyebut nuklir Rusia.

“Segala sesuatu yang dilakukan Barat menciptakan ancaman nyata berupa konflik penggunaan senjata nuklir, dan dengan demikian menghancurkan peradaban,” tambahnya.

Komentar Putin datang setelah negara-negara Eropa berdebat soal kemungkinan pengiriman pasukan ke Ukraina. Presiden Prancis Emmanuel Macron awal pekan ini untuk mengesampingkan pengiriman tersebut,sebuah sikap yang dengan cepat dibantah oleh para pemimpin lain di Eropa.

Perdebatan ini telah menimbulkan ketegangan di Moskow. Apalagi selama ini Rusia melihat konfliknya dengan Ukraina sebagai bagian dari “perang hibrida” yang lebih luas, yang dilakukan NATO terhadap Ukraina.

Amerika Serikat (AS) bereaksi ke pernyataan Putin. Juru bicara Gedung Putih mengatakan komentar terbaru presiden 71 tahun itu tidak bertanggung jawab.

“Ini bukan pertama kalinya kami melihat retorika tidak bertanggung jawab dari Vladimir Putin,” respons juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller kepada wartawan.

“Tidak mungkin bagi pemimpin negara bersenjata nuklir untuk berbicara,” tambahnya.

Sementara organisasi pemenang hadiah Nobel menilai pentingnya meredam retorika permusuhan. Ancaman nuklir telah muncul terang-terangan.

“Meningkatnya retorika permusuhan mengenai Ukraina harus dihentikan sebelum menyebabkan bencana nuklir,” kata direktur eksekutif organisasi pemenang hadiah Nobel, Melissa Parke, di laman yang sama.

“Kembalinya Presiden Putin melontarkan ancaman nuklir secara terang-terangan tidak dapat diterima,” ujarnya.

“Kedua belah pihak perlu mengurangi retorika mereka,” katanya merujuk Putin dan Barat.

Perang Rusia dan Ukraina telah terjadi sejak Februari 2022. Setelah sejumlah kegagalan di 2023, Rusia dilaporkan mencapai kemajuan besar di medan perang Februari lalu dengan menguasai benteng timur Ukraina, Avdiivka.

Pasukan Putin dilaporkan masih terus berusaha untuk melanjutkan kemajuan tersebut. Di sisi lain, dukungan Barat ke Ukraina terus melemah, di mana bantuan senilai US$ 60 miliar terhenti di Kongres AS.

Putin sendiri awal pekan ini menegaskan bahwa kapasitas tempur angkatan bersenjatanya telah “meningkat berkali-kali lipat”. Ia pun menambahkan pasukannya “maju dengan percaya diri di sejumlah wilayah” Ukraina.

Sebelumnya Barat sebenarnya telah memberi ratusan sanksi ke Putin dan Rusia guna menyetop langkahnya di perang. Namun, dalam pidatonya terbaru, Putin mengatakan nasib Rusia lebih baik dari perkiraan banyak orang.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Waduh, Zelensky Ancam Cucu Putin


(sef/sef) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *