Naik-Turun Nilai Pasar Samsung dalam Sedekade Terakhir

Rerata Tahunan Nilai Kapitalisasi Pasar Samsung (2010-2024)*

A Font Kecil
A Font Sedang
A Font Besar

Data Companies Market Cap menunjukkan, nilai kapitalisasi pasar raksasa teknologi, Samsung, mencapai US$407,59 miliar atau Rp6.623 triliun (asumsi kurs Rp16.251 per US$) pada Senin siang (8/7/2024). Nilai itu naik 1,5% dari periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Sementara sepanjang 2023, rerata nilai pasar Samsung menyentuh US$401,54 miliar atau Rp6.525 triliun. Angka ini meroket 37% dari nilai pasar 2022 yang sebesar US$293 miliar atau Rp4.761 triliun.

Secara tren tahunan, nilai pasar Samsung berfluktuasi selama lebih dari sedekade terakhir. Pada 2010 nilainya hanya US$109,32 miliar atau Rp1.776 triliun. Nilai pasarnya tercatat naik, tetapi sempat mengalami penurunan beruntun pada 2013 hingga 2015, seperti terlihat pada grafik.

Samsung memperoleh nilai pasar tertinggi pada 2020, yakni US$500,83 miliar atau Rp8.138 triliun.

(Baca juga: 10 Saham dengan Market Cap Terbesar Awal Juli 2024)

Pendapatan Samsung tercatat sebesar US$201,06 miliar atau Rp3.267 triliun pada kuartal awal 2024. Companies Market Cap menyebut, pendapatan Samsung sempat melesu pada 2023 dengan nilai US$196,77 miliar atau Rp3.197 triliun,

Adapun laba bersihnya terbukukan sebesar US$12,66 miliar atau Rp205,73 triliun pada awal 2024. Sedangkan laba bersihnya hanya US$8,34 miliar atau Rp135,53 triliun pada 2023.

Kini, Samsung Elektronik yang berpusat di Korea Selatan menghadapi tantangan mogok massal dari pekerjanya selama tiga hari. Melansir Reuters, mogok dan demonstrasi itu menuntut upah yang lebih baik dan satu hari cuti tambahan bagi pekerja yang tergabung dalam serikat pekerjanya, National Samsung Electronics Union (NSEU).

NSEU beranggotakan sekitar 30.000 orang, mencakup sekitar 24% dari seluruh tenaga kerja di Korea Selatan. Sebelumnya serikat ini melakukan aksi mogok pertamanya Juni lalu.

(Baca juga: Samsung Galaxy S24, Ponsel GenAI Terlaris Global Awal 2024)

Editor :
Erlina F. Santika

Data Terkait
Data Stories Terkini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *