Museum Sanghyang Dedari di Bali Muncul Berkat Ide Mahasiswa UI

Karangasem

Museum Sanghyang Dedari merupakan salah satu museum unik, menyuguhkan ritual Sanghyang Dedari. Namun, siapa sangka, awal mula museum ini adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang melakukan penelitian.

Bukan soal benda bersejarah, Museum Sanghyang Dedari ternyata menyimpan berbagai cerita dari Tari Sanghyang Dedari yang sangat sakral. Traveler akan menemukan berbagai properti yang digunakan pada ritual tari ini. Tak hanya itu, proses pementasan pun dijelaskan secara detail.

Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, menjelaskan pendirian Museum Sanghyang Dedari berawal dari mahasiswa UI bernama Saras Dewi. Dia melakukan riset terkait Tari Sanghyang.

“Awal mula didirikan museum ini, diawali oleh pengabdian masyarakat mahasiswa UI bernama Saras Dewi pada 2016. Beliau melakukan riset terkait Tari Sanghyang ini,” kata dia.

Museum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti)

Pendirian Museum Sanghyang Dedari mulanya bertujuan untuk melestarikan Tari Sanghyang Dedari yang hampir punah. Pelestarian ini dilakukan pada naskah-naskah terkait Tari Sanghyang Dedari.

Akhirnya, pada 2016 dilakukan diskusi dan kesepakatan untuk membangun museum ini. Subrata menyebut pembangunan Museum Sanghyang Dedari didanai oleh pemerintah dan berkolaborasi dengan Desa Adat Geriana Kauh.

Pembangunan Museum Sanghyang Dedari sempat terhenti pada tahun 2017 karena terjadi bencana alam gunung meletus. Walau sempat terhenti, akhirnya Museum Sanghyang Dedari dibuka secara resmi pada tahun 2019.

Menurut riset yang dilakukan oleh Saras Dewi, terdapat 25 jenis Tari Sanghyang, namun hingga saat ini tidak banyak lagi ritual Sanghyang yang ada di Bali. Salah satu yang masih eksis adalah Tari Sanghyang Dedari.

Sebagai kekayaan budaya Desa Adat Geriana Kauh, Subrata berharap museum ini menjadi daya tarik wisata dan memberikan imbas positif khususnya dalam bidang ekonomi untuk masyarakat desa.

“Saya dan warga desa berharap ini bisa dijadikan daya tarik untuk desa. Bisa memberikan imbas positif khususnya bidang ekonomi bagi warga desa. Mengingat kondisi desa kami yang hanya berjarak 9 kilometer dari puncak Gunung Agung,” kata Subrata.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simak Video “Mengintip Tempat Refreshing Raja Karangasem Zaman Dulu”[Gambas:Video 20detik](fem/fem)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *