Mobil Terbang Made In Bandung Siap Dijual Massal 2028

Singapura

Mobil terbang made in Bandung, Vela Alpha, tengah dipamerkan prototipe-nya di Singapore Airshow. Jika tidak ada halangan, dan proses sertifikasi beres, mobil bisa mulai terbang tahun 2028.

Menurut Director of Program and Operations PT Vela Prima Nusantara Silverius Kevin Phang, pihaknya berencana membuat model Vela Alpha secara utuh (full scale) pada akhir tahun depan.

“Kami berencana untuk full scale di akhir tahun depan. Kami mengerti banyak tantangannya karena secara regulasi belum terbentuk. Untuk membangun regulasi menerbangkan ini di Indonesia,” ujarnya saat ditemui di pameran Singapore Airshow, seperti dilaporkan wartawan detikcom Dadan Kuswaraharja, Jumat (23/2/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini PT Dirgantara Indonesia sedang mengajukan uji laik terbang kepada Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan untuk Vela Alpha. “Sertifikasi di awal tahun 2028 kemudian jual massal di akhir 2028,” tambah Business Development PT Vela Prima Nusantara Heber MF Panjaitan.

Selain ke DKPPU, seritifkasi juga sedang diajukan ke otoritas FAA ( Federal Aviation Administration) agar mobil terbang ini bisa dijual di pasar luar Indonesia. “Kami ingin meng-cover semua market yang ada,” ujar Kevin.

Bandara Soekarno-Hatta ke SCBD Jakarta 8 menit saja

Dari sisi teknis, Vela Alpha memiliki 8 baling-baling untuk mengangkat pesawat saat lift off dan 1 propeler di belakang untuk menjelajah di udara. Mobil terbang ini bentuknya mirip seperti helikopter tapi punya fixed wing seperti pesawat komersial biasa.

Begitu mengudara di ketinggian 8.000 kaki, mobil terbang ini hanya butuh menit untuk terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kawasan SCBD Jakarta.

Mobil terbang memiliki dua penggerak yakni elektrik dan hybrid. “Kalau full elektrik bisa untuk 100 km, kalau hybrid bisa mencapai 500 km. Alpha ini 1 pilot dan bisa menampung 4-6 orang di dalamnya,” ujar Kevin.

Vela yakin karena ini pesawat yang memiliki pilot, penerimaan publik terhadap kendaraan ini lebih baik dibanding kendaraan tanpa pilot. “Walaupun semua elektrik tetap ada pilot kalau ada error, jadi social acceptance-nya bisa lebih tinggi, kalau tanpa pilot, orang biasanya enggan,” ujar Heber.

Heber menambahkan mobil terbang ini bisa digunakan orang untuk bepergian dari bandara menuju rumah entah itu di Bogor atau Bandung. “Biasanya pakai taksi premium, transportasi darat, ini lah penggantinya, itu segmennya, pengganti transportasi darat yang tarifnya menengah ke atas,” ujarnya.

Di Singapore Airshow selama 2 hari pertama pameran, Vela mengaku sudah ada 120 pihak yang menyatakan minatnya pada kendaraan ini. “Dari domestik dan luar negeri, kebanyakan overseas, 80 persen luar negeri, karena harus disiapkan infrastrukturnya, vertical port harus ada, vertical port itu helipad yang ada fasilitas charging baterainya. Air Traffic Controlnya juga berbeda dengan pesawat biasa tapi Indonesia akan segera bertambah, dari airline Indonesia juga ada potensi penambahan,” ujar Heber.

“Ini semua produk anak bangsa, kami juga berkantornya di PT DI,” ujar Heber.

“Kami adalah pionir di Asia Tenggara, kami mau meluncurkan Alpha ini di Indonesia sebagai konsumen perdana, lalu ke Asia Pasifik dan Amerika,” tutup Kevin.

Simak Video “Kenalin Nih, Mobil Terbang dari Bandung!”[Gambas:Video 20detik](ddn/ddn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *