Menyeberangi Jembatan Kayu Paling Tua di Eropa

Jakarta

Kapellbrücke atau Jembatan Kapel di Lucerne, Swiss, adalah jembatan kayu tertua di Eropa. Usianya sudah lebih dari 650 tahun dan menjadi tujuan utama wisata di sana karena selain indah juga memiliki nilai sejarah.

Bila melintasi jembatan ini, jangan lupa menengadahkan kepala. Ada apa?

Saya mengunjungi Jembatan Kapel ini beberapa waktu yang lalu ketika singgah di Lucerne dalam perjalanan dari Jerman menuju Italia.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata sejak abad ke-13 pun kota ini sudah menjadi jalur perdagangan dan titik transit para pedagang dari Jerman ke Italia dan sebaliknya.

Melintasi Jembatan Kapel sepanjang 204,7 meter ini membuat saya tak henti-hentinya berdecak kagum. Jembatan tua ini benar-benar indah!

Bila menengadah, pada bagian tiang-tiang penyangga atap jembatan yang berbentuk segitiga, terlihat berjajar lukisan tua. Itu dilukis pada abad ke 17 oleh pelukis lokal Hans Heinrich Wägmann.

Serial lukisan tentang sejarah Kota Lucerne itu pada awalnya berjumlah 158 lukisan, tetapi sebelum peristiwa kebakaran tahun 1993, jumlah lukisan asli sudah berkurang menjadi 147 lukisan. 110 lukisan di antaranya terdampak peristiwa kebakaran tersebut.

Namun masih ada puluhan lukisan yang berhasil diselamatkan. Ketika saya berkunjung ke sana, banyak panel-panel segitiga yang seharusnya dihiasi dengan lukisan yang masih dibiarkan kosong dan hanya menyisakan bidang hitam, bekas kebakaran yang terjadi sebelumnya.

Di sepanjang jembatan, di seberang Sungai Reuss, berjajar bangunan-bangunan tua bersejarah dengan arsitektur yang indah bergaya Barok yang mewah dan klasik.

Sangat berbeda dengan sisi sungai di seberangnya yang dipenuhi bangunan modern. Jembatan Kapel seakan membelah kedua sisi yang berbeda itu.

Sementara di sepanjang dinding jembatan itu sendiri dipenuhi tanaman hias berwarna-warni yang membuat jembatan kayu kuno itu terlihat cantik.

Tempat penyiksaan

Di sisi jembatan, berdiri di atas air dan menyatu dengan jembatan, terdapat menara air yang usianya bahkan lebih tua dari jembatan tua yang saya lewati.

Menara berbentuk segi delapan setinggi 43 meter dan terbuat dari batu bata itu sepanjang sejarahnya memiliki banyak fungsi, mulai dari tempat penyimpanan uang, ruang arsip, tempat perlindungan hingga penjara dan ruang penyiksaan. Ngeri, ya?

Melintasi Sungai Reuss, Jembatan Kapel juga menghubungkan teater Lucerne dengan Kapel Santo Petrus. Nama Jembatan Kapel sendiri memang berhubungan dengan Kapel Santo Petrus yang berdiri di dekatnya.

Di sekitar Kapel Santo Petrus, di sepanjang Sungai Reus berjajar kafe-kafe dan restoran estetik. Banyak wisatawan yang singgah untuk menikmati makan siang di sana sambil menikmati keindahan jembatan dari seberang sungai.

Sayangnya, selain terkenal karena keindahannya, Swiss juga terkenal karena harga-harganya yang mahal. Teman seperjalanan saya menghabiskan lebih dari EUR 100 atau sekitar satu setengah juta rupiah untuk makan siang berdua di salah satu restoran estetik itu.

Karena waktu yang dialokasikan untuk mengunjungi Lucerne sangat sempit, saya melewatkan waktu makan siang untuk menjelajahi jembatan dan bangunan-bangunan di sekitarnya.

Meskipun matahari bersinar terang, namun suhu udara di Lucerne masih cukup dingin. Saya menyempatkan diri membeli pretzel yang bisa dimakan dalam perjalanan.

Ternyata rasanya luar biasa lezat, tanpa perlu merogoh kantong terlalu dalam pula. Saya hanya menghabiskan EUR 3,5 atau setara lima puluh ribu rupiah saja untuk menikmati menu makan siang yang bisa dibawa pulang itu.

(msl/msl) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *