Ketua GIPI: Dana Promosi Wisata Indonesia Terlalu Sedikit

Jakarta

Dana promosi pariwisata di Indonesia dianggap terlalu sedikit. Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) yang menjabarkannya.

Organisasi itu menyebut bahwa sektor pariwisata yang merangkak naik sumbangsihnya untuk negara masih dianggap sebagai aksesoris.

“Dan yang juga jadi PR juga adalah dana promosi seperti Indonesia. Indonesia itu enggak punya cukup dana promosi,” kata Ketum GIPI Hariyadi Sukamdani, Rabu (31/1/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Nah ini yang jadi selama republik ini berdiri itu apa sektor pariwisata itu aksesorisnya sebetulnya,” imbuh dia.

Hariyadi menjelaskan bahwa memang benar adanya bila pembangunan infrastruktur zaman Pak Jokowi saat ini sudah baik sekali. Tetapi kalau kita bicara khusus promosi untuk pariwisata itu ya masih terbatas.

“Karena kan Kemenparnya dia punya anggarannya berapa, Rp 3,8 triliun kecil sekali,” tegas dia.

Siapa pengelola dana promosi?

Hariyadi mengatakan juga bahwa dana khusus terkait promosi tidak ada di Indonesia. Karena, dana itu malah ada yang dipegang oleh perusahaan negara.

“Dan enggak ada dana promosi yang khusus untuk itu enggak. Malah semuanya dipegang oleh BUMN. Kan kemarin InJourney ini kan yang untuk bikin apa segala macam kan dananya dari mereka,” kata dia.

“Nah harapan kita ke depan itu dana pariwisata itu promosi itu kita kelola bersama, sama pelaku. Jadi nanti supaya hasilnya bisa maksimal,” ungkap dia.

Pengelolaan dana promosi pariwisata ini dikatakan Hariyadi sangatlah penting. Karena, jika hanya pemerintah dan BUMN yang mengelola maka bisa terjadi ketidakcocokan seperti yang terjadi sebelumnya.

“Kalau misalnya dari kalau pemerintah sendiri kan belum tentu cocok. Misalnya kemarin contohnya yang apa yang di Bali itu apa yang, Beach Games itu, WBG ya itu kan batal ya,” tegas dia.

“Lepas dari batalnya dia tapi kalau itu dilakukan enggak bakal maksimal. Kenapa? Milih tanggalnya enggak pas gitu loh, pas lagi peak season di Bali,” terang Hariyadi.

“Satu lagi peak season, cari kamar juga setengah mati, cari flight juga susah gitu. Padahal dia atletnya kalau enggak salah 3.000 orang gitu,” Hariyadi menambahkan.

“Nah kedua dari suporternya juga susah ke sana. Kalau kita kan mau narik kan suporter. Nah itu contoh kecil saja ya,” tegas dia.

Jadi, ke depan, Hariyadi menyebut bahwa pelaku harus diajak bicara supaya kita bisa sama-sama merancang bersama mana yang paling maksimal.

Lalu, berapa dana promosi yang ideal?

Dalam hal ini, Hariyadi memberi contoh dana promosi yang dimiliki oleh Singapura hingga Thailand yang jumlahnya hampir dua kali lipat yang dimiliki oleh Kemenparekraf. Efeknya adalah kemajuan di bidang MICE dan lain-lain.

“Tergantung. Misalnya kita ambil contoh ya kayak Singapura kalau dirupiahkan ya kalau enggak salah sekitar antara 6 triliunan. Tapi dia promosi aja, khusus promosi tok gitu loh enggak dipakai sama anggaran macam-macam,” kata dia.

“Jadi dia bisa konsentrasi, makanya MICE di sana maju banget. Dan itu sebagai contoh aja ya. Thailand saya lupa berapa,” imbuh dia.

“Tapi yang jelas mereka Malaysia, Singapura, Thailand ada dananya khusus gitu loh. Kalau kita kan kecampur sama dana operasionalnya Kemenparekraf jadi enggak bisa maksimal,” kata dia lagi.

Penggunaan dana promosi

Lalu, buat apa saja dana promosi pariwisata itu? Hariyadi menegaskan bahwa dana itu digunakan untuk subsidi hingga promosi di media massa.

“Macam-macam. Jadi misalnya mensubsidi tiket untuk yang dipandang marketnya bagus. Jadi orang yang datang ke Indonesia tiketnya bisa lebih murah gitu,” jelas Hariyadi.

“Kedua diberikan dalam bentuk famtrip. Jadi travel-travel agen segala macam pokoknya influencernya itu dibiayai. Ketiga misalnya bahkan untuk charter flight misalnya gitu,” kata dia.

“Kalau ada sesuatu itu penerbangan rintisan dibayarin. Untuk MICE ada tender kan ada ongkosnya. Nah, biasanya kan di situ,” ungkap Hariyadi.

Simak Video “Ketua GIPI: Kenaikan Pajak Hiburan Belum Pernah Disosialisasikan Pemerintah”[Gambas:Video 20detik](msl/wsw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *