Kenapa Pulau Kunti Dilarang Dimasuki Manusia? Ini Jawabannya

Sukabumi

Pulau Kunti di Sukabumi dilarang dimasuki oleh manusia. Bukan karena alasan mistis, tapi ada alasan lain yang lebih penting. Apa alasannya?

Mulai tahun 2024, Pulau Kunti yang berada di dalam area Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG), terlarang untuk dimasuki manusia.

Ada sejumlah pemicu mengapa kebijakan ekstrem itu diambil oleh para pemangku kebijakan di sana. Salah satunya, karena perambahan lahan di kawasan tersebut sudah semakin mengkhawatirkan. Bahkan, sampai ada kebun singkong di Pulau Kunti!


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kalau saya sendiri dari dulu sudah sosialisasi, hanya banyak pertimbangan ya. Bukan berarti saya memberikan kebijakan. Waktu itu, warung masih tidak bertambah, sekarang warung bertambah. Di belakangnya ada kebon, kebun singkong, kebun pisang. Ini semakin hancur,” ungkap Kepala Resor (Kares) Cikepuh Iwan Setiawan, beberapa waktu lalu.

Iwan menegaskan, di kawasan Pulau Kunti yang merupakan area konservasi Cagar Alam, pelarangan aktivitas manusia merupakan harga mati.

“Dilarang kawasan cagar alam itu statusnya harga mati. Kenapa saya katakan begitu, tidak boleh ada kegiatan apapun di dalam kawasan konservasi, kecuali untuk penelitian dan pendidikan,” tegas Iwan.

Menurut Iwan, sosialisasi tentang larangan itu sudah dilakukan sejak lama. Namun, kala itu ada berbagai pertimbangan.

“Itu yang dikhawatirkan ketika ada revalidasi, masa kawasan konservasi yang notabene intinya geopark seperti itu? Tim asesor nanti saya yakin akan dicoret dari statusnya UNESCO itu. Saya tegaskan dalam kawasan Konservasi Cibanteng, dan SM Cikepuh, tidak boleh ada aktivitas apapun kecuali penelitian dan pendidikan,” tegasnya.

Ketua Badan Pengelola (BP) CPUGG Dody A Somantri mengatakan, penutupan Pulau Kunti untuk manusia sudah melalui seluruh tahapan pertemuan dengan semua pihak, termasuk pengelola warung dan kapal wisata.

“Justru aturan penutupan itu hasil pertemuan. Saya hadir juga dengan kepala resor, kepala desa, para pedagang di Pulau Kunti, perahu semua kumpul di sana silaturahmi sekaligus sosialisasi,” jelas Dody.

Menurut Dody masih banyak pihak yang belum mengetahui bahwa aturan soal Cagar Alam (CA) memang sudah sejak dulu di kawasan tersebut.

“Intinya bahwa yang namanya Pulau Kunti belum semua tahu dengan statusnya. Itu kan Cagar alam. Cagar alam itu dimana-mana tidak boleh, kemarin diberikan kejelasan karena semakin kumuh, pedagang sudah banyak. Nah itu sudah jadi catatan pihak kehutanan,” pungkas Dody.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

Simak Video “Momen Evakuasi 22 ABG Tersesat di Cagar Alam Pananjung Pangandaran”[Gambas:Video 20detik](wsw/wsw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *