Kabar Genting AS – China Vs Ekonomi RI Diramal Positif, Kuat Mana?

Jakarta, CNBC Indonesia – Banyak sentimen yang bakal memengaruhi gerak pasar keuangan Tanah Air mulai dari kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS), inflasi China, hingga pertumbuhan ekonomi RI.

Menarik dicermati, respon pasar pada pekan depan yang akan menimbang sejauh mana kekuatan ekonomi Indonesia yang resilient, ditambah musim laporan keuangan yang sudah dimulai melawan berbagai risiko eksternal.

Pasar Tenaga Kerja AS Masih Ketat

Tantangan dari eksternal bagi pasar keuangan RI yang pertama datang dari Negeri Paman Sam dengan kondisi pasar tenaga kerja masih ketat.

Pada Jumat lalu (2/2/2024) Biro Ketenagakerjaan AS melaporkan data pekerjaan tercatat di luar pertanian (nonfarm payroll/NFP) periode Januari 2024 sebanyak 353.000. Jauh dari ekspektasi yang perkiraan bisa turun ke 182.000 dari bulan sebelumnya sebesar 333.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran juga meleset dari perkiraan yang proyeksi bisa naik ke 3,8℅. Realisasi-nya pada Januari 2024 angka pengangguran masih sama dari bulan sebelumnya di 3,7℅.

Pelaku pasar perlu mengantisipasi efek domino dari pasar tenaga kerja yang ketat karena akan memicu sikap bank sentral AS, The Federal Reverse (The Fed) tidak buru-buru memangkas suku bunga.

Ekonomi AS memasuki 2024 juga masih bertahan di posisi yang kuat. Data pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV/2023 semakin menjauhi resesi dengan pertumbuhan 3,3%, jauh di atas konsensus sebesar 2%. Serta, tingkat inflasi masih di atas target bank sentral.

Pada pekan depan, masih ada sejumlah data ekonomi AS yang akan rilis. Pada Senin (5/2/2024) akan diumumkan data Purchasing Managers Index (PMI) Composite dan Service periode Januari 2024 yang kemungkinan besar masih di level ekspansif.

Berikutnya pada Rabu (7/2/2024) akan rilis data neraca dagang AS, beserta perkembangan ekspor dan impor-nya. Patut dicermati bagaimana perkembangan mengingat negeri Paman Sam merupakan mitra dagang kedua terbesar setelah China.

Hari selanjutnya, setiap Kamis akan selalu rilis klaim pengangguran mingguan. Untuk sepanjang pekan yang berakhir 3 Februari 2023, klaim pengangguran terbuka diperkirakan turun 220.000 dari minggu sebelumnya sebesar 224.000.

IMF Proyeksi Ekonomi China Melambat

Beralih ke sentimen lain dari Tiongkok, baru-baru ini pada Jumat lalu, lembaga International Monetary Fund (IMF) melaporkan proyeksi perlambatan ekonomi negeri Tirai Bambu hingga empat tahun mendatang.

Ekonomi China diproyeksi melambat dari 5,2℅ pada 2024 menjadi 4,6℅ pada 2024. Kemudian pada 2028 hanya akan tumbuh 3,8℅.

Pada pekan depan, ada beberapa indikator ekonomi China yang akan rilis mulai dari data PMI, Inflasi, hingga proyeksi aliran investasi asing atau foreign direct investment (FDI).

Besok Senin, sang Naga Asia akan merilis data PMI Composite dan Service periode Januari 2024. Menurut lembaga penghimpun data Trading Economics, kemungkinan besar hasilnya masih bertahan di level ekspansif, sama seperti bulan sebelumnya.

Dua hari berikutnya, tepatnya pada Kamis akan diumumkan Inflasi China untuk Januari 2024. Tampak negeri Tirai Bambu masih akan lanjut deflasi.

Dalam basis tahun, konsensus pasar memperkirakan pada Januari akan terjadi deflasi sebesar -0,5℅. Lebih dalam dari deflasi bulan sebelumnya sebesar -0,3℅.

Pekan depan data FDI China juga bakal rilis untuk periode bulan pertama 2024. Proyeksi pasar memperkirakan turun jadi US$ 3,21 triliun dari akhir tahun lalu sebesar US$ 3,24 triliun.

Perlu dicatat, FDI China pada November tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 1998 terjadi defisit pada aset sebesar US$ 54 miliar, sementara pada kewajiban tercatat defisit US$ 11,8 miliar. Fakta ini mencerminkan keengganan asing untuk menanamkan modalnya di Tiongkok.

Ekonomi China yang masih lesu memang menjadi risiko bagi RI, mengingat posisinya sebagai mitra dagang utama baik untuk ekspor maupun impor. Namun, menilai investor asing yang nampak masih enggan masuk, ini bisa memicu peluang penanam modal masuk ke negara emerging market yang punya ekonomi resilient, salah satunya Indonesia.

Ekonomi RI Diramal Tumbuh Positif, Bakal Jadi Obat Kuat?

Besok Senin, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2023 dan periode sepanjang 2023 atau full year.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2023 diperkirakan akan menanjak seiring kenaikan konsumsi masyarakat selama Natal dan libur Tahun Baru (Nataru). Namun, pertumbuhan ekonomi akan melandai untuk sepanjang 2023 dibandingkan 2022.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada Oktober-Desember 2023 atau kuartal IV mencapai 5,01% (year on year/yoy) dan tumbuh 0,42% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 4,94 (yoy) dan 1,60% (qtq) pada kuartal III-2023. Dengan menghitung pertumbuhan ekonomi kuartal I-III pada 2023 dan proyeksi kuartal IV-2023 maka pertumbuhan ekonomi full year 2023 akan berada di angka 5,04%. Pertumbuhan akan lebih rendah dibandingkan pada 2022 sebesar 5,31%.

Proyeksi tersebut sejalan dengan forecast pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2023 akan ada di atas 5% sehingga secara keseluruhan tahun ada di kisaran 5%. Sementara itu, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan dalam kisaran 4,5%-5,3%.

Data ekonomi domestik lain yang bakal rilis pekan depan, tepatnya pada Rabu ada dari Bank Indonesia yang akan mengumumkan Cadangan Devisa (cadev) RI per Januari 2024.

Ada potensi cadev turun dari US$ 144 miliar menjadi US$ 141 miliar lantaran sepanjang bulan pertama 2024 rupiah tertekan di hadapan dolar AS lebih dari 2℅.

Kendati begitu, tekanan dolar terhadap rupiah sudah tampak mulai mereda. Ini tercermin dari posisi mata uang Garuda yang kini sudah rebound.

Selama sepekan yang berakhir pada Jumat (2/2/2024) rupiah sudah menguat sekitar 1℅ menuju posisi Rp15.655/US$.

Penguatan rupiah kemungkinan besar karena respon pasar yang sudah price in terhadap ketidakpastian eksternal dan mulai beralih fokus menanti hasil laporan keuangan emiten pada sepanjang 2023.

Sebagai contoh pada pekan ini ada empat big bank RI yang sudah lengkap mengumumkan capaian kinerja tahun lalu dengan hasil memuaskan. Laba bersih kembali cetak rekor memungkinkan dividen yang diberikan meningkat.

Masih ada banyak emiten big caps lain yang akan rilis kinerja dan menarik untuk dicermati. Harapannya, jika hasil sesuai ekspektasi ini akan menjadi pemanis bagi pergerakan harga sahamnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(tsn/tsn)[Gambas:Video CNBC] 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *