Inflasi PCE Melandai, Wall Street Lanjut Pesta

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street dibuka cenderung menguat pada perdagangan Kamis (30/11/2023), setelah dirilisnya data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) periode Oktober tumbuh moderat.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka menguat 0,53% ke posisi 35.619, S&P 500 bertambah 0,13% ke 4.556,48, dan Nasdaq Composite naik tipis 0,04% menjadi 14.263,87.

Wall Street cenderung cerah di awal sesi hari ini setelah dirilisnya data inflasi PCE periode Oktober 2023 yang tumbuh moderat dan lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan AS, inflasi PCE pada Oktober tumbuh 0% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan tumbuh 3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih rendah dari posisi September lalu yang sebesar 0,4% (mtm) dan 3,4% (yoy).

Angka inflasi PCE Oktober juga lebih rendah dari konsensus pasar dalam Trading Economics yang memperkirakan tumbuh 0,2% (mtm) dan 3,1% (yoy).

Adapun inflasi PCE inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi, naik 0,2% (mtm) dan 3,5% (yoy) pada bulan ini. Kedua angka tersebut selaras dengan konsensus Dow Jones.

Sementara itu belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, meningkat 0,2% pada bulan lalu, setelah kenaikan 0,7% yang tidak direvisi pada September, berdasarkan data dari Biro Analisis Ekonomi. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pengeluaran naik 0,2%.

Inflasi PCE ini akan digunakan oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sebagai acuan untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Dengan data inflasi PCE yang semakin mendingin, maka hal ini dapat memperkuat optimisme pasar akan berakhirnya era suku bunga tinggi di tahun depan.

Pelaku pasar sudah mengantisipasi penurunan suku bunga acuan pada pertengahan 2024. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, sebanyak 96% pelaku pasar memprediksi bahwa The Fed akan menahan kembali suku bunga acuannya pada pertemuan Desember mendatang.

Sementara itu, pelaku pasar memprediksi The Fed baru akan memulai pangkas suku bunga acuannya pada pertemuan Mei 2024, yakni sebanyak 49,5%.

Sejak Maret 2022, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 525 basis poin (bp) ke kisaran saat ini 5,25%-5,50%.

Di lain sisi, kondisi pasar tenaga kerja juga terus membaik diperkuat oleh laporan terpisah dari Departemen Tenaga Kerja yang menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran meningkat 7.000 menjadi 218.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 25 November. Para ekonom memperkirakan 226.000 klaim untuk minggu terakhir.

Data klaim minggu lalu termasuk Hari Libur Thanksgiving. Klaim cenderung fluktuatif saat hari libur. Namun, pasar tenaga kerja melemah seiring dengan permintaan perekonomian secara keseluruhan.

Di lain sisi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) mulai berbalik arah ke zona penguatan, setelah beberapa hari melandai. Yield Treasury tenor 10 tahun naik 6,7 bp menjadi 4,338%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Wall Street Merana Lagi, Masih Gegara Utang AS Turun Kasta?


(chd/chd) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *