Ganti Rugi Lahan Belum Dibayar, Pemilik Lahan Tutup Jalan ke Waduk Lambo Nagekeo

TRIBUNFLORES.COM, MBAY-Ruas jalan di Desa Labolewe menuju lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Waduk Lambo di Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Selasa siang 27 Februari 2024 ditutup oleh puluhan pemlik lahan yang tidak puas karena belum menerima pembayaran ganti rugi lahan proyek itu.

“Lokasi yang ditutup di Desa Labolewa, karena permasalahannya di dalamnya ada masyarakat adat yang kurang lebih 84 orang itu belum diproses untuk dibayar ganti ruginya,” kata tokoh adat Labo, Desa Labolewe, Thomas Jawa Sina, dihubungi TribunFlores.com, Selasa siang.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Waduk Lambo hingga ditayangkan berita ini Selasa malam belum memberi respon. Pesan WhatsApp belum dibacanya.  

Thomas mengatakan penutupan akses jalan hanya berlaku bagi lalu lintas kendaraan proyek yang pergi dan pulang dari lokasi proyek berlaku sampai hari Jumat pekan ini. Sedangkan kendaraan milik warga umum bebas melintas jalan.

Baca juga: Paket Dua Proyek Waduk Lambo Nagekeo Melebihi Target

Penutupan jalan berlaku sampai hari Jumat karena pemilik lahan dijanjikan bertemu dengan penjabat  Bupati Nagekeo dan Kejaksaan Negeri Ngada membicarakan ganti rugi.

Thomas mengatakan bahwa pemilik lahan telah lama menunggu janji pembayaran ganti rugi lahan, namun sampai kini belum direalisasikan.

Nilai ganti rugi lahan diakui Thomas belum diketahui jumlahnya, begitu pula luas lahan mencapai sekitar 200 hektar yang telah dibebaskan milik dari 84 pemilik. Setiap pemilik memiliki luas bidang tanah berbeda berkisar dua sampai tiga bidang.

“Karena belum bayar maka masyarakat adat ini tutup (jalan). Kita mengambil satu keputusan bersama dalam masyarakat Adat Lambo,” tegas Thomas.

Baca juga: Sebagian Lahan Penlok Satu Waduk Lambo Belum Lunas

Dikatakan Thomas, lebih  dari sudah empat kali mereka ke DPRD dan terakhir lagi ke Kantor BPN Kabupaten Nagekeo, namun kepala kantot sedang berada di Bogor.

Dikatakan Thomas, lahan seluas  200 hektar dibebaskan itu telah ada kegiatan proyek bendungan oleh PT Waskita Karya. Tapi  ganti rugi belum terealisasi sampai mereka harus menutup jalan ke proyek.

“Kurang lebih sudah tiga tahun. Ada beberapa yang sudah terbayar, tetapi  84 orang ini yang ditunda-tunda terus. Ini yang perlu ditanyakan. Kami mau mencari tahu dimana hambatannya. Alasan apa tidak dibayar dan kami mencari kejelasan,”  tegas Thomas.

Protes melibatkan 84 pemilik lahan dan puluhan warga lainya yang solider dengan para pemilik lahan. *

Berita TRIBUNFLORES.COM lainnya di Google News

BERITATERKAIT

Baca Juga

Ikuti kami di

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *