Dulu Dianggap Gulma, Amarilis Kini Jadi Daya Tarik Wisata Gunungkidul

Gunungkidul

Kebun bunga amarilis kini menjadi magnet wisata Gunungkidul, Yogyakarta. Namun, tahukan kamu dulunya petani menganggap bunga ini sebagai gulma.

Bunga amarilis bermekaran di Kebun Budidaya Pelestarian Populasi Amarilis (KBPPA) Padukuhan Ngasemayu, Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Sebelum setenar sekarang, bunga amarilis dianggap gulma di kampung itu.

Tepatnya pada tahun 1980-an, para petani memilih memusnahkan amarilis. Pasalnya, bunga itu menghambat pertumbuhan tanaman di kebun mereka.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Amaris ini dikenal sama para petani sejak tahun 80-an itu sebagai gulma yang bagi para petani itu merusak dan mengganggu tanaman inang seperti singkong, jagung, kacang kedelai, dan masih banyak lagi. Kemudian, para petani mengumpulkan lalu memusnahkannya, ada yang dibakar, ada yang diinjek-injek, ada yang dirajang, dicacah dilenyapkan ke sungai, dibakar,” kisah putra pemilik KBPPA Sukadi, Mustakim Joni Mustofa (22) kepada detikJogja saat ditemui di lokasi, Kamis (30/11/2023).

Joni menyebut hal itu memantik keprihatinan ayahnya, Sukadi. Dari situlah ayahnya khawatir jika bunga cantik berwarna oranye ini bakal hilang dari kampungnya.

“Kemudian Pak Sukadi merasa iba karena bunganya ini kan cantik. Kalau terus-menerus dibasmi bukan tidak mungkin dalam waktu beberapa tahun ke depan akan hilang dan punah dari wilayah sini,” jelas dia.

Pada tahun 2002 Sukadi mulai mengumpulkan bunga tersebut dari pekarangan dan ladang milik tetanganya. Sukadi pun merogoh kocek dari kantongnya sendiri untuk uang lelah para tetangganya demi amarilis tersebut.

“Itu dulu kita ngambilnya dari ladang-ladang itu ada yang dari daerah Nglanggeran itu kita ambil dari sana, tapi kita tidak membeli cuma memberi uang lelah sama petaninya sebagai ganti untuk bensin untuk lain,” tuturnya.

Proses pengambilan amarilis itu berlangsung 13 tahun atau hingga 2015. Tak terasa pekarangan Sukadi seluas 3.800 meter persegi penuh dengan amarilis dan mulai banyak orang datang berkunjung.

“Bunga amarilis dikumpulkan ke sini selama kurang lebih 13 tahun, terhitung dari tahun 2002 kemudian 2015 itu kan penuh di sini. Lalu banyak yang datang ke sini terus disebarin di media sosial. Secara tidak langsung menyebar dan banyak yang datang ke sini,” ujar anak pertama Sukadi ini.

Baca berita selengkapnya di detikJogja.

Simak Video “Kenali Ciri-ciri Hewan Ternak yang Terinfeksi Antraks”[Gambas:Video 20detik](pin/pin)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *