Dicari: Sun Wukong yang Mau Makan Pisang dengan Gaji Puluhan Juta

Beijing

Taman hiburan Wuzhizhan Scenic Area sedang mencari ‘siluman kera’. Siluman ini haruslah doyan makan pisang sepanjang hari dan bergaji Rp 13 juta per bulan.

Dilansir dari CNN pada Minggu (7/1) Wuzhizhan Scenic Area ingin mempekerjakan seseorang yang rela menjadi makhluk legenda Tiongkok, Sun Wukong atau Monkey King. Siluman kera itu menjadi salah satu atraksi yang digemari anak-anak.

Sama seperti kisah pencarian kitab ke Barat, Sun Wukong di Wuzhizhan Scenic Area juga akan ‘tinggal’ di gua batu dengan pemandangan yang sangat indah. Ia harus mengenakan topeng dan kostum Monkey King, lalu bertingkah seperti monyet.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagian terpenting dari peran ini adalah menerima makanan ringan yang ditawarkan oleh anak-anak yang berkunjung. Anak-anak biasanya akan memberikan apel, mie instan dan pisang.

“Tidak ada persyaratan akademis. Persyaratan utamanya adalah memiliki ketertarikan terhadap Sun Wukong, bakat dalam berakting, lincah, cerita dan mudah berinteraksi dengan wisatawan,” ucap seorang manajer di lokasi tersebut.

Manajer menambahkan bahwa sudah ada dua orang staf yang dipekerjakan untuk memainkan karakter ini. Sekarang taman Wuzhizhan Scenic Area hanya membutuhkan satu orang lagi.

“Mereka tidak perlu khawatir tentang dampak makan pisang pada lingkar pinggang. Monkey King tidak diharuskan melahap semua makanan,” jelasnya.

Sebaliknya, para pemain tokoh Siluman Kera boleh menyimpan makanan yang diberikan anak-anak untuk dibagikan kepada rekan-rekannya setelah giliran kerja.

Saat ini Wuzhizhan Scenic Area mengalami musim dingin. Lantas, bagaimana keadaan gua yang ditinggali oleh Sun Wukong?

“Perusahaan juga memasang pemanas listrik di dalam gua untuk berjaga-jaga jika cuaca terlalu dingin,” tambahnya.

Traveler yang berniat untuk mendaftar sebagai Siluman Kera bisa mengirimkan CV ke Wuzhishan Scenic Area di provinsi Hebei, Tiongkok utara. Siapa pun boleh mendaftar.

“Saya harap saya dapat meneruskan kegembiraan dan kenangan masa kecil saya serta menyebarkan budaya Tiongkok, sekaligus mengalihkan fokus pada kesehatan mental anak-anak dan remaja,” katanya.

Simak Video “Larangan Kembang Api di China Tuai Polemik”[Gambas:Video 20detik](bnl/bnl)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *