AS Kirim Ultimatum Baru ke Israel Soal Gaza, Ini Isinya

Jakarta, CNBC Indonesia – Washington mendorong Israel untuk memfokuskan penargetan yang tepat terhadap para pemimpin Hamas di Gaza, ketimbang melakukan pengeboman dan operasi darat secara luas. Mengutip Reuters, hal itu dikatakan oleh Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan pada Jumat waktu setempat.

Sejauh ini, Israel menolak tekanan global yang semakin masif untuk menghentikan serangan kepada Gaza. Terhitung korban jiwa serangan Israel hampir mencapai yang 19.000 warga Palestina sejak serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan pada 7 Oktober.

“Akan ada transisi ke fase lain dalam perang ini, yang lebih terfokus pada penargetan para pemimpin dan operasi yang didorong oleh intelijen,” kata Sullivan, kepada wartawan saat berkunjung ke Israel, dikutip dari Reuters, Sabtu (16/12/2023).

“Kapan hal itu terjadi dan dalam kondisi apa tepatnya akan terjadi diskusi intensif yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Israel,” ujarnya.

Sullivan mengatakan dia telah membahas waktu transisi tersebut pada pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kabinet perang, dan panglima militer pada hari Kamis waktu setempat.

Sebelum pertemuan itu, para pejabat senior AS mengatakan fase yang tidak terlalu intens akan dimulai dalam beberapa minggu. Namun, menteri pertahanan Israel mengatakan dia memberitahu Sullivan bahwa perang akan berlangsung lebih dari beberapa bulan.

Foto: tentara Israel melakukan opeasi militer di Jalur Gaza, Kamis (14/12/2023). (Israel Defense Forces/Handout via REUTERS)tentara Israel melakukan opeasi militer di Jalur Gaza, Kamis (14/12/2023). (Israel Defense Forces/Handout via REUTERS)

Dalam komentarnya pada hari Jumat waktu setempat, Sullivan juga mengatakan perang akan berlangsung berbulan-bulan, namun mengatakan taktik akan berkembang selama jangka waktu tersebut.

Sullivan menolak untuk menjawab ketika ditanya apakah AS akan menahan bantuan militer jika Israel tidak mengurangi jumlah korban sipil. Pada kesempatan itu, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mencapai kesepakatan adalah melalui diskusi pribadi.

Bertepatan dengan kunjungan Sullivan, Israel mengumumkan telah membuka perbatasan kedua dengan Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Langkah ini disambut baik oleh Washington.

Sullivan juga bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari Jumat waktu setempat. Abbas mengatakan kepada Sullivan bahwa serangan Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya di Gaza, harus dihentikan.

Secara tertutup, para pejabat AS mengatakan Gedung Putih telah mendorong penghentian perang ini dalam waktu yang lebih cepat. Juru bicara Gedung Putih John Kirby mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers reguler pada hari Kamis waktu setempat bahwa Sullivan telah membahas perubahan yang terjadi dalam waktu dekat. Pada hari Jumat waktu setempat, Kirby mengatakan ada kesepakatan umum untuk beralih ke operasi militer dengan intensitas lebih rendah.

Presiden AS Joe Biden ingin Israel mengubah taktik dalam waktu sekitar tiga minggu, menurut empat pejabat AS. Biden memperingatkan minggu ini bahwa opini internasional sedang menentang Israel karena tingginya korban sipil di Gaza.

Sullivan mengatakan AS ingin melihat hasil yang sesuai dengan jaminan bahwa Israel membedakan antara warga sipil dan militan. Dia juga mengkritik Hamas karena menggunakan warga sipil sebagai perisai, dan mengatakan bahwa para pejuang beroperasi dari sekolah dan rumah sakit. Tuduhan ini dibantah oleh Hamas.

Adapun sasaran perang utama Israel termasuk Mohammed Deif, yang mengepalai sayap militer Hamas dan dalang serangan 7 Oktober; wakilnya, Marwan Issa; dan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Gawat! PBB Ungkap Air Jadi Urusan Hidup & Mati di Gaza


(wur/wur) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *