9 Destinasi Wisata Populer yang Kena Pajak Turis

Jakarta

Pandemi Covid-19 telah usai sejak, sontak membuat sektor pariwisata meningkat drastis. Namun, belakangan tempat wisata populer mulai menerapkan pajak pariwisata.

Penerapan pajak pariwisata di beberapa destinasi ditujukan untuk membendung dampak mass tourism ataupun membuat pariwisata lebih berkelanjutan.

“Pajak dan penilaian pariwisata sedang dipertimbangkan sebagai alat untuk mengendalikan angka,” kata kepala pembuat perubahan di Global Destination Sustainability Movement, Guy Bigwood, kepada Lonely Planet.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Yunani, kenaikan biaya hotel digunakan untuk memerangi perubahan iklim, sementara pajak turis dari kapal pesiar di Dubrovnik, Kroasia, akan membantu infrastruktur.

“Sebenarnya, kami melihat bahwa para wisatawan dan pelaku bisnis dengan senang hati membayar pungutan jika mereka tahu bahwa uang tersebut akan dibelanjakan dengan baik di komunitas mereka,” katanya.

Meskipun pajak pariwisata bukanlah hal yang baru – menurut laporan tahun 2020 dari Group NAO, pajak tersebut telah meningkat selama lebih dari satu dekade. Setidaknya 10 kota atau negara akan menerapkan pajak baru atau menaikkan pajak yang sudah ada.

Sontak membuat beberapa destinasi wisata favorit pun juga menerapkan pajak turis tersebut. Ini akan membuat biaya berkunjung ke spot menjadi lebih mahal. Berikut 9 destinasi populer dilansir dari New York Post, Rabu (3/1/2024):

1. Amsterdam, Belanda

Tahun ini, kota Belanda ini akan menjadi tempat dengan pajak pariwisata tertinggi di Eropa dan keempat tertinggi di dunia. Hal itu karena ada biaya 12,5 persen untuk kamar hotel tahun ini.

“Kami memiliki banyak biaya untuk kota ini, tentu saja – untuk kesejahteraan, untuk kelayakan huni,” kata Hester Van Buren kepada New York Times.

“Kami tidak ingin menaikkan pajak untuk penduduk kami. Jadi kami berkata, ‘Baiklah, biarkan para pengunjung membayar lebih banyak,” terangnya.

Kenaikan biaya ini akan memungkinkan kota ini untuk mengatasi konsekuensi dari pariwisata yang berlebihan dan menjaga kebersihan jalanan, katanya kepada Lonely Planet.

Menurut Travel + Leisure, pajak rata-rata untuk wisatawan akan menjadi sekitar 22 USD atau sekitar Rp 341 ribu per malam. Ini naik sekitar 6 USD sekitar Rp 93 ribu jika mereka menghabiskan sekitar 183 USD atau sekitar Rp 2,8 juta untuk sebuah kamar.

2. Venesia, Italia

Venesia adalah destinasi favorit di Italia. Tetapi, tempat ini tengah berjuang melawan dampak buruk mass tourism. Karenanya, pengunjung harian harus membayar lebih dari 5,38 USD atau sekitar Rp 83 ribu untuk datang ke kota terapung tahun ini.

Menurut CNBC, pengunjung harus membayar pajak pariwisata jika mereka berkunjung lebih dari 30 hari walau tidak berturut-turut, akhir pekan panjang yang ramai, dan akhir pekan musim panas.

Kota yang indah ini dibanjiri oleh para pelancong yang menggunakan kapal pesiar, yang disebut sebagai turis “hit and run”. Mereka menyumbang kurang dari 20 persen terhadap ekonomi pariwisata namun merupakan sekitar 73 persen dari pengunjung Venesia.

3. Barcelona dan Valencia, Spanyol

Meskipun saat ini Barcelona mengenakan biaya sekitar 3 USD atau sekitar Rp 46,5 ribu di atas pajak pariwisata di seluruh wilayah Spanyol, pada bulan Maret biaya tersebut akan dinaikkan lagi menjadi 3,56 USD atau sekitar Rp 55 ribu. Hal itu di tengah kampanye kota untuk menarik pengunjung berkualitas tinggi dan meningkatkan infrastruktur.

Demikian juga, Valencia akan memberlakukan pajak pariwisata mulai dari 50 sen hingga lebih dari 2 USD per malam atau sekitar Rp 31 ribu.

4. Bali, Indonesia

Salah satu destinasi populer di Indonesia yang mulai menerapkan pajak turis adalah Bali. Mulai tanggal 14 Februari, warga negara asing di Bali harus membayar sekitar 10 USD per orang atau sekitar Rp 155 ribu. Ini akan digunakan untuk melestarikan lingkungan, alam dan budaya serta meningkatkan kualitas.

Biaya tersebut akan dikenakan segera setelah wisatawan menginjakkan kaki di pulau ini. Dan jika mereka ingin melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Gili dan Lombok atau ke Jawa Timur, mereka harus membayar 10 USD lagi saat kembali ke Bali.

5. Islandia

Sebelum berjemur di bawah Cahaya Utara atau bersantai di pemandian air panas Islandia, traveler harus membayar pajak wisata.

Para pejabat mengumumkan bahwa wisatawan akan dikenakan biaya dengan jumlah yang tidak ditentukan. Walau begitu nilainya disebut seharusnya tidak akan tinggi.

“Pariwisata telah berkembang pesat di Islandia dalam satu dekade terakhir dan hal ini jelas tidak hanya berdampak pada iklim,” ujar Katrín Jakobsdóttir, Perdana Menteri Islandia, seperti dikutip dari Travel + Leisure.

6. Manchester, Inggris

Tahun lalu, Manchester memperkenalkan pajak pariwisata untuk penginapan sementara. Misalnya untuk hotel dan akomodasi liburan lainnya yang totalnya lebih dari 1 USD atau sekitar Rp 15,5 ribu.

Meskipun kecil, para pejabat memperkirakan lebih dari 3 juta USD atau Rp 46,5 miliar terkumpul per tahun, menurut Guardian.

7. Thailand

Negara ini menerapkan biaya perjalanan udara sekitar 9 USD atau sekitar Rp 139,5 ribu dan biaya 4 USD atau sekitar Rp 62 ribu untuk mereka yang datang melalui jalur air atau darat.

Pajak ini hanya berlaku untuk orang yang berusia di atas 2 tahun yang menginap di Thailand, dan akan digunakan untuk biaya yang berkaitan dengan pelayanan wisatawan, lapor Lonely Planet.

8. Olhão, Portugal

Kota di selatan Portugal ini mulai mengenakan pajak pariwisata pada musim panas lalu. Para pengunjung kini perlu membayar lebih dari 2 USD per malam atau sekitar Rp 31 ribu selama musim ramai dan hanya sekitar 1 USD per malam atau sekitar Rp 15,5 ribu selama musim sepi yakni November hingga Maret.

9. Bhutan

Negara di Asia Selatan ini populer di kalangan turis mancanegara. Namun, turis yang ingin mendatangi negara di tepi pegunungan Himalaya ini harus merogoh kocek cukup dalam.

Pasalnya, traveler dewasa dikenakan tarif sebesar 100 USD per hari atau sekitar Rp 1,55 juta, sedangkan anak-anak berusia enam hingga 11 tahun dikenakan biaya 50 USD atau sekitar Rp 775 ribu.

Sebelum pandemi, pengunjung harus membayar 65 USD per hari atau sekitar Rp 1 juta sebagai bagian dari biaya pembangunan berkelanjutan negara tersebut. Sedangkan pada tahun 2022 tarif itu dinaikkan menjadi 200 USD atau sekitar 3,09 juta dengan harapan dapat menarik wisatawan yang bernilai tinggi dan bervolume rendah.

Negara ini juga menawarkan insentif untuk tinggal lebih lama: Setelah membayar pajak selama empat hari, traveler dibebaskan dari pajak untuk empat hari berikutnya. Demikian juga, dengan membayar pajak selama tujuh hari, wisatawan akan mendapatkan tujuh hari bebas pajak.

Simak Video “Perjalanan Menuju Spot Melihat Lumba-lumba di Laut Manado”[Gambas:Video 20detik](wkn/wkn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *